Era Digital, Pencitraan yang Tak Dapat Dihindari

* Oleh Neny Suswati / Penulis

DI zaman serba digital, kampanye pilkada maupun pemilu tidak bisa terhindar dari yang namanya pencitraan, atau sebagian mengakuinya sebagai branding.

Mengapa dunia maya sangat menarik dimanfaatkan untuk pencitraan?

Ternyata, dengan pertimbangan, pengguna internet berkisar 50% dari jumlah penduduk, jadi sangat wajar kalau semua kontestan ramai-ramai membidik calon pemilih pengguna internet. Bahkan, tranding topic di masyarakat, lebih sering bersumber dari postingan di medsos.

Memilih pemimpin di sebuah pondok pesantren, tentu lebih mudah daripada memilih pemimpin daerah. Hampir seluruh penduduk pesantren paham para calon yang tentu saja orang dalam, sehingga sulit terjadi, pemilih tertipu dengan pencitraan. Andainyapun tidak semua pemilih pernah berinteraksi langsung dengan calon pemimpin, tetapi berita yang beredar bisa mereka dapat dengan mudah dan nyaris valid.

Tentu berbeda kondisinya dengan pemilihan kepala daerah, yang wilayahnya jauh lebih luas dengan berbagai hambatan jangkauan informasi, untuk mengenali langsung calon pemimpin yang mengajukan diri. Bahkan, dari nama calon pemimpin yang muncul, satupun tak pernah mendengarnya, apalagi mengenal dan berinteraksi.

Media social menjadi sarana efektif para calon pemimpin untuk sosialisasi. Di sinilah peluang pencitraan digarap habis-habisan oleh tim pemenangannya masing-masing.

Sebagai calon pemilih, bagaimana kita bisa mengenali calon pemimpin berkualitas jika semuanya melakukan pencitraan? Tentu kita tidak paham dapur masing-masing tim pemenangannya, mana citra yang asli dan sekedar dipoles sedikit untuk kepantasan tampilan ataukah citra rekayasa yang jauh dari fakta?

Hasil dari pencitraan sangat tergantung pada kecerdasan dan kreativitas tim pemenangan setiap kandidat, juga calon pemilih yang mengakses informasi tersebut.

Sedikit pertimbangan, salah satu cara mengetahui kualitas calon pemimpin adalah menguji program kerja yang ditawarkan. Calon seharusnya mau dan siap dibongkar program-program yang ditawarkan dan siap diawasi realisasinya jika terpilih.

Salah satu paslon dalam pilkada Lampung 2018, menunjukkan kesiapan programnya untuk dibedah dan diawasi pelaksanaannya, kelak. Dalam setiap forum debat kandidat yang diselenggarakan KPU, pslon no 4 terlihat sangat siap dengan program-programnya.

Selain lewat acara resmi yang diselenggarakan KPU tersebut, paslon no 4, melalui akun Instagramnya membuka Q & A (Question & Answer) untuk membedah KJ4, sebagai program unggulannya.

Selain KJ4, paslon no 4, Mustofa-Ahmad Jajuli juga sudah melaunching aplikasi Go 4 Service yang dapat di download di playstore, sebagai aplikasi yang dibuat timnya, untuk melibatkan masyarakat dalam pemerintahan, sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat dan pengawasan oleh masyarakat.

Tetapi program-program yang sangat merakyat ini akan tertunda pelaksanaannya jika paslon no 4 tidak mendapat dukungan signifikan dari masyarakat dan aplikasi Go 4 service hanya akan berfungsi saat Mustafa-Ahmad Jajuli dilantik menjadi gubernur dan wakil gubernur Lampung periode 2018-2023. (*)