Uang Penentu Kemenangan Pileg 2019, Benarkah?

* Oleh : Sri Murtiningsih – Penulis

 

SIANG itu, penulis berjalan-jalan di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di sebuah provinsi di negeri ini. Waktu itu, senaja menemui salah satu Aleg yang duduk di komisi yang menaungi bidang sosial dan Pendidikan.

Baru saja saat akan memasuki pintu lift, penulis bertemu dengan yang dicari, tepatnya di depan pintu lift. Perbincangan pun terjadi dari lift hingga ruang kerjanya. Saat masuk di ruang komisi tersebut, penulis diminta duduk untuk menunggu sesaat dia memasuki salah satu ruangan di mana Aleg yang lain sedang berada. Terdengar suara pembicaraan, namun penulis tidak mengetahui persis apa yang dibicarakan.

Sekitar lima menit kemudian, sang legislator pun keluar dan menemui penulis. Sebelum berbincang, salah seorang oknum wartawan juga menemuinya, dan ingin izin menggunakan aula yang ada di kantor partai dimana Aleg tersebut bernaung. Setelah lima menit kemudian, perbincangan pun dilanjutkan.

“Ada perlu apa?, kok kayaknya penting benar,” ujarnya.

Penulis pun menyampaikan apa yang hendak diutarakan. Sebagai salah satu usahawan di bidang periklanan, penulis menawarkan jasa sosialisasi di media yang penulis miliki. Media tersebut sudah berbadan hokum, dan memiliki perwakilan biro di seluruh tanah air.

Namun konsep penawaran, berbeda dengan media lain, konsepnya publikasi sambil beramal. Karena konsep tersebut direalisasikan lantaran program di salah satu panti untuk memberikan Pendidikan khusus seperti Komputer, Bahasa Inggris, dan Kewirausahaan, yang notabene membutuhkan anggaran.

Dan dana yang akan digunakan adalah bersumber dari pendapatan kerjasama publikasi, baik iklan maupun advertorial.

“Kami berencana membantu sosialisasi pencalonan abang dan istri (istrinya juga aleg yang kembali maju), dan kami menawarkan kerjasama,” ungkap penulis sambal menjelaskan program sosialisasi sambil beramal tersebut.

Namun, dirinya tampak pusing, lantaran penyampaian tersebut. “Lagi mikirin dana kampanye,” ungkapnya, sambil menerima surat yang penulis bawa. Setelah itu, berlalu menuju keluar kantor Komisi.

Masih duduk di ruang tamu ruang komisi tersebut, beberapa jam kemudian, Penulis mendengar suara Aleg yang lain berbicara dengan sesamanya. “Yang nyalon sekarang banyak, gua (saya) belum tahu jadi lagi apa gak,” ungkap suara tersebut.

“Kita harus siap lah,” kata yang satunya.

Kemudian, keduanya pun berbicara soal dana kampanye, mereka bingung mencari dari mana. “Gak tahu, gua dapet dari mana untuk kampanye,” kata dia.

Diakui, sejak penetapan daftar caleg tetap (dct) oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), pileg 27 April 2019 nanti tampaknya menjadi pertarungan hidup mati bagi yang mengincar kursi panas pembahas kebijakan anggaran itu. Dan tentunya tidak sedikit materi yang sudah dikeluarkan.

Banyaknya caleg-begitu singkatan untuk para Calon Anggota Legislatif- membuat pertarungan merebut kekuasaan parlemen begitu ketat. Sejumlah caleg dari petahana alias yang saat ini masih menjabat dan mencalonkan kembali menjadi anggota dewan, dibuat ketar-ketir. Di hati mereka (aleg), ada rasa ke khawatiran akan posisi mereka yang dirasakan kian terancam.

Pertarungan itu, membutuhkan amunisi yang cukup besar, dari persiapan materi hingga mental, terutama saat menjelang pencoblosan.

Dan itu tampaknya memang benar, masih terngiang di telinga penulis, bahwa Aleg yang ditemui tersebut pernah bercerita bahwa saat pertarungan maju di priode keduanya, dirinya menghabiskan anggaran atau dana kampanye sekitar Rp400 juta. Lalu dirinya berpesan, agar sebaiknya penulis tidak maju sebagai caleg, karena posisi sebagai Aleg banyak sekali godaanya kalua tidak siap secara finansial. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *