LAMPUNG UTARA, – Pasrah dengan keadaan yang ada, Haryadi (35) dan Yusnia (32) warga Dusun Tanjung Bulan, Desa Sawojajar Kecamatan Kotabumi Utara Kabupaten Lampung Utara. Terus berjuang untuk kesembuhan anaknya Fania (8) dengan penyakit penumpukan cairan di bagian otaknya.
Anak kedua dari pasangan Haryadi (35) dan Yusnia (32) ini, hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur, terus merintih menahan rasa sakit dikala batuk melanda.
Saat batuk, terlihat dalam selang medis yang terpasang di bagian tenggorokannya mengeluarkan cairan. Keadaan ini membuat tangis kesakitan diatas pelukan sang ibu yang terus setia mendampingi di tempat tidur.
Yusnia menceritakan, gejala penyakit yang dialami Fania mulai terlihat sejak usia 7 tahun. Awalnya, Fania dirujuk ke RSUD Dr. H. Abdoel Moeloek karena mengalami epilepsi. Dari hasil pemeriksaan lanjutan, dokter menemukan adanya penumpukan cairan di rongga otak.
“Sejak itu Fania harus rutin ke rumah sakit. Bahkan sempat menjalani operasi dan dirawat di RSUD Abdoel Moeloek lebih dari dua bulan,” ujar Yusnia dengan suara lirih, Selasa 16 Desember 2025.
Akibat penyakit tersebut, hari-harinya dihabiskan dengan berbaring, tertidur dan menahan rasa sakit. Fania tak lagi bisa beraktivitas seperti anak seusianya. Bermain dan bersekolah impian dia kini hanyalah kenangan.
Kondisi semakin berat karena keterbatasan ekonomi keluarga. Ayah Fania, Haryadi, bekerja serabutan dengan penghasilan yang tak menentu. Sementara kebutuhan pengobatan sang anak terus berjalan.
“Setiap hari saya harus dapat kerjaan, Bang. Anak saya cuma bisa minum susu, tidak bisa makan yang lain. Itu pun masuk lewat lubang di tenggorokan, bukan lewat mulut,” ungkap Haryadi.
Ia mengaku, seharusnya Fania masih harus menjalani perawatan inap. Namun karena keterbatasan biaya, pihak keluarga terpaksa memilih rawat jalan meski berisiko.
“Dokter sebenarnya melarang kami pulang karena takut selangnya lepas. Tapi kami sudah tidak punya biaya,” jelasnya.
Haryadi juga menyampaikan hingga kini belum ada bantuan pengobatan dari pemerintah. Bantuan yang pernah diterima hanya berupa kursi roda dari Dinas Sosial.
“Untuk pengobatan selanjutnya juga akan dirujuk lagi, tapi kami bingung biaya dari mana,” katanya.
Dengan wajah penuh harap, Haryadi hanya bisa berharap uluran tangan para dermawan untuk membantu pengobatan anaknya.
“Kami orang kecil seperti ini cuma bisa berharap. Mudah-mudahan ada yang tergerak membantu kesembuhan Fania,” ucapnya menahan haru.
Ikuti Saluran WhatsApp Inspiratif.co.id, Instagram : @inspiratif.co.id_official, X : @inspiratifL, @PORT_INSPIRATIF, laman Facebook Media Inspiratif.co.id, untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.













