Interupsi Spritual di Tengah Pandemi

Penulis : Fath_Afr IDP News Production CNN Indonesia TV

* Dilaporkan melalui Wartawan Inspiratif.co.id, Dadang Mas Bakar – Makassar

WALAUPUN hanya sebuah tulisan, tapi saya merasa cukup indah untuk di renungkan. Perihal, kali ini pertama saya menulis sebuah narasi singkat tentang fakta pandemi covid 19.

Jika memang kebersihan bisa mencegah covid, mungkin Italia tidak menelan 135.000 orang, karena Italia termasuk negara terbersih di Eropa.

Jika memang panas bisa membunuh covid 19, mungkin Iran tidak akan menelan 67.000 orang meninggal, karena Iran adalah negara gurun yang panas.

Jika memang kehati-hatian bisa mencegah corona, mungkin pangeran Charles dan beberapa keluarga kerajaan tidak akan terpapar covid 19, karena kehidupan keluarganya paling terjaga.

Dan jika memang, orang yg cuek dan sembrono pola hidupnya, pasti covid 19 akan menyerang tubuhnya. mungkin juga para pengamen jalanan, kuli kasar dan para pedagang pasar tradisional sudah pada tersungkur akibat virus covid 19.

Perihal mengapa bisa terjadi, jawabanya Karena hidup ini tidak harus selalu sejalan dengan teori, teknologi dan akal manusia.

Sudah banyak tenaga medis yang terpapar dgn virus Covid-19, apakah mereka tidak menggunakan APD dengan benar ?
Atau apakah mereka tidak hati-hati dalam menjalankan profesinya ?

Mungkin jawabanya tidak. Terus, apakah orang yang kelihatan sudah sedemikian dekat dgn Tuhan dijamin tidak akan terkena Covid 19 ?

Tidak juga demikian, karena sudah ada beberapa para hamba Tuhan dan jamaahnya yang terjangkit virus ini, bahkan meninggal.

Diperhadapkan pada situasi seperti ini, Tuhan seakan-akan hendak berbicara kepada kesombongan manusia, bahwa kita tanpa Tuhan memang hanyalah tumpukan daging yg bernafas.

Oleh karena itu, jika Tuhan Berkehendak, Logika dan Teknologi kita tidak akan mampu melawannya.

Kita bisa menyaksikan saat ini, Disney kehabisan magicnya, Paris kehilangan romantisnya, New York kota hingar binar akhirnya sunyi sepi, Tembok Cina tidakk lagi menjadi benteng yang kokoh dan
Mekkah yang dulunya berdesak-desakan mendadak kosong.

Pelukan dan rengkuhan tiba-tiba menjadi senjata, tidak mengunjungi orang tua dan teman menjadi tindakan cinta.

Tiba-tiba kita menyadari bahwa kekuatan, kecantikan dan uang tidak berharga ketika kita tidak bisa mendapatkan ventilator kehidupan yang dibutuhkan.

Bumi tetap melanjutkan hidupnya dan langit masih biru, sedangkan kita manusia ada di dalam sangkar. Saya pikir Allah mengirimkan pesan buat kita,

“Hi orang sombong kalian tidak diperlukan, udara, tanah, air, dan langit tanpa kalian baik-baik saja. Ketika kalian keluar dari sangkar nanti ingatlah bahwa kalian adalah tamuku bukan tuanku”, ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: