Oleh: Junaidi Ismail, S.H. | Ketua Umum Poros Wartawan Lampung
KEBERANIAN mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) asal Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), Adriano Panama, patut diapresiasi dan diacungi jempol.
Di tengah sambutan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman di kampus Undip, Adriano memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan kondisi nyata di kampung halamannya. Ia mengungkapkan bahwa harga beras di Alor dapat melonjak hingga Rp25.000–Rp30.000 per kilogram ketika terjadi krisis.
Aspirasi itu ternyata langsung mendapat respons. Mentan Amran menginstruksikan Bulog untuk segera mengirim pasokan beras ke Alor dan meminta jajarannya memastikan ketersediaan serta kesiapan gudang penyimpanan beras di wilayah tersebut.
Menurut saya, inilah salah satu contoh keberanian mahasiswa yang dibutuhkan Indonesia.
Adriano tidak hanya berbicara tentang teori. Ia membawa persoalan masyarakat di daerahnya langsung ke hadapan pengambil kebijakan. Ia menjadi penyambung lidah masyarakat yang mungkin tidak memiliki kesempatan untuk berbicara langsung kepada seorang menteri.
Namun, di balik keberanian Adriano dan respons cepat Mentan Amran, ada pertanyaan yang menurut saya perlu kita renungkan bersama.
Mengapa persoalan pangan di daerah harus disampaikan langsung oleh seorang mahasiswa kepada menteri agar segera mendapat perhatian?
Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan pemerintah. Justru sebaliknya, ini harus menjadi momentum evaluasi agar persoalan serupa tidak terus berulang.
Indonesia adalah negara kepulauan dengan kondisi geografis yang sangat beragam. Persoalan distribusi pangan di Pulau Jawa tentu tidak selalu sama dengan di NTT, Maluku, Papua atau wilayah kepulauan lainnya.
Karena itu, pemerintah membutuhkan sistem pemantauan pangan yang mampu bekerja sampai ke daerah terpencil dan wilayah 3T.
Harga mulai naik, harus terdeteksi. Stok mulai menipis, harus terpantau. Distribusi terganggu, harus segera diketahui.
Jangan sampai pemerintah baru bergerak setelah masyarakat mengeluh, mahasiswa melakukan interupsi, persoalan menjadi viral atau media ramai memberitakannya.
Mahasiswa memang memiliki posisi penting sebagai “agent of change”. Tetapi peran tersebut juga perlu terus berkembang. Gerakan mahasiswa tidak cukup hanya dengan demonstrasi dan kritik retoris.
Mahasiswa harus berani membawa data, fakta dan persoalan nyata masyarakat.
Dalam konteks ini, Adriano telah memberikan contoh bahwa suara mahasiswa akan jauh lebih kuat ketika dibangun berdasarkan kondisi lapangan.
Adriano menyampaikan persoalan daerahnya, membawa angka, meminta perhatian pemerintah, dan pemerintah merespons. Inilah dialog yang sehat antara masyarakat dan negara. Namun, respons cepat jangan hanya menjadi solusi sesaat. Pengiriman beras ke Alor memang penting untuk menjawab kebutuhan mendesak. Tetapi yang lebih penting adalah memastikan persoalan serupa tidak kembali terjadi.
Pemerintah perlu memperkuat sistem distribusi, stok pangan, kesiapan gudang, jalur logistik dan Early Warning System sehingga potensi krisis dapat diketahui sebelum masyarakat benar-benar merasakan dampaknya.
Sebab persoalan pangan bukan hanya tentang ada atau tidak adanya beras. Pangan juga menyangkut keterjangkauan harga, kelancaran distribusi dan kepastian masyarakat memperoleh kebutuhan pokok.
Di sisi lain, pemerintah juga tidak perlu alergi terhadap kritik mahasiswa. Kritik yang disampaikan dengan data bukan ancaman. Justru kritik dapat menjadi masukan berharga agar kebijakan pemerintah tidak hanya terlihat baik di atas kertas, tetapi benar-benar dirasakan masyarakat.
Saya mengapresiasi keberanian Adriano Panama. Saya juga mengapresiasi respons cepat Mentan Amran.
Namun, peristiwa ini jangan berhenti sebagai cerita tentang seorang mahasiswa yang berhasil menyampaikan aspirasi kepada seorang menteri. Jadikan ini sebagai momentum untuk memperbaiki sistem.
Demi kehormatan dan kewibawaan pemerintah serta kesejahteraan rakyat Negara Kesatuan Republik Indonesia, saya mengajak seluruh pihak terkait untuk mengevaluasi kebijakan dan kinerja di pos masing-masing.
Perkuat data lapangan. Perkuat sistem peringatan dini. Pastikan stok dan gudang siap. Pastikan distribusi pangan tidak tersendat. Dan yang paling penting, pastikan masyarakat di wilayah terdepan, terluar dan tertinggal tidak harus menunggu persoalannya viral untuk mendapatkan perhatian.
Sebab negara yang kuat bukan negara yang baru bergerak setelah rakyat berteriak. Negara yang kuat adalah negara yang mampu mendengar sebelum rakyat meminta, mengetahui sebelum masalah membesar, dan bertindak sebelum krisis terjadi.
Keberanian Adriano adalah contoh bahwa satu suara yang disampaikan dengan keberanian dan data dapat membuka pintu perubahan.
Sekarang, tugas pemerintah adalah memastikan suara dari Alor tersebut tidak hanya didengar hari ini, tetapi menjadi bahan untuk membangun sistem pangan yang lebih cepat, tanggap dan berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. (*)
Bandar Lampung, 9 Agustus 2026
Ikuti Saluran WhatsApp Inspiratif.co.id, Instagram : @inspiratif.co.id_official, X : @inspiratifL, @PORT_INSPIRATIF, laman Facebook Media Inspiratif.co.id











