Laporan: Andika Isma
MAKASSAR — Tim dosen Universitas Negeri Makassar (UNM) melaksanakan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) bertajuk “Penguatan Literasi Generative AI (Gen-AI) Berbasis Etika Digital dalam Mendukung Keputusan Bisnis dan Kesiapan Berwirausaha Gen Z sebagai Calon Wirausaha di SMAN 15 Makassar” pada tahun 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didanai PNBP Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Makassar Tahun 2026. Program berada pada bidang fokus Sosial Humaniora, Seni Budaya, dan Pendidikan serta diarahkan untuk memperkuat literasi teknologi, etika digital, kemampuan pengambilan keputusan bisnis, dan kesiapan berwirausaha siswa Generasi Z.
Program dipimpin oleh Dra. Sitti Hajerah Hasyim, M.Si. sebagai Ketua Tim Pengabdi, bersama Agung Muliaman Anas, S.Pd., M.Pd., Asriyani Amrullah, S.Pi., M.M., Hajar Dewantara, S.Pd., M.Pd., dan Andi Tonra Lipu, S.E., M.M. sebagai anggota. Pelaksanaan kegiatan juga melibatkan mahasiswa UNM, yakni Wahda Putri Maulia dan Rani Mu’arifah, dalam proses pendampingan dan pelaksanaan kegiatan.
Program ini berangkat dari perubahan cepat teknologi kecerdasan buatan, khususnya Generative Artificial Intelligence, yang semakin banyak digunakan untuk menghasilkan teks, gambar, analisis, hingga rekomendasi berbasis data. Dalam konteks kewirausahaan, Gen-AI dapat dimanfaatkan untuk mengeksplorasi ide bisnis, membaca peluang pasar, menyusun rencana usaha sederhana, membuat konten pemasaran digital, serta membantu proses pengambilan keputusan.
Namun, kedekatan Generasi Z dengan teknologi belum selalu diikuti kemampuan memanfaatkannya secara produktif dan bertanggung jawab. Hasil observasi awal tim menunjukkan bahwa siswa telah familiar dengan perangkat digital, media sosial, dan berbagai tools berbasis AI, tetapi penggunaannya masih dominan untuk kebutuhan komunikasi, hiburan, serta membantu tugas sekolah. Pemanfaatan AI untuk inovasi bisnis, analisis peluang usaha, strategi pemasaran, dan pengambilan keputusan kewirausahaan masih perlu diperkuat.
Selain aspek teknis, tim juga menempatkan etika digital sebagai bagian penting dalam pelatihan. Penggunaan AI tanpa pemahaman yang memadai dapat memunculkan persoalan seperti plagiarisme, manipulasi informasi, ketergantungan berlebihan terhadap teknologi, serta risiko keamanan data pribadi. Karena itu, literasi AI dalam program ini tidak hanya diarahkan pada kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga pada cara memanfaatkannya secara kritis, etis, aman, dan bertanggung jawab.
Dalam pelaksanaan program, Ketua Tim Pengabdi, Dra. Sitti Hajerah Hasyim, M.Si., menekankan bahwa penguasaan Generative AI perlu dibarengi dengan kemampuan berpikir kritis dan kesadaran etika digital.
“Generasi Z sangat dekat dengan teknologi, tetapi kedekatan itu perlu diarahkan menjadi kemampuan yang produktif. Kami ingin siswa memahami bahwa Generative AI bukan sekadar alat untuk memperoleh jawaban secara cepat, tetapi dapat digunakan untuk mengeksplorasi peluang usaha, menganalisis informasi, merancang ide bisnis, dan mendukung pengambilan keputusan. Pada saat yang sama, mereka juga harus memahami batasan, etika, dan tanggung jawab dalam penggunaannya,” ujarnya.
Menurut Hajerah, literasi AI yang baik justru harus memperkuat kualitas berpikir siswa, bukan menggantikannya.
“Teknologi seharusnya membantu siswa berpikir lebih baik, bukan membuat mereka berhenti berpikir. Karena itu, dalam pelatihan ini kami menekankan pentingnya memeriksa kembali informasi yang dihasilkan AI, menjaga integritas, melindungi data pribadi, serta tetap menjadikan kreativitas dan penilaian manusia sebagai dasar keputusan,” tambahnya.
Pihak SMAN 15 Makassar juga mendukung pelaksanaan program tersebut. Dalam dokumen kemitraan, sekolah diwakili Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Drs. Alisyahbana Abu, M.Pd., yang menyatakan kesiapan sekolah berkolaborasi sebagai mitra sasaran program.
“Perkembangan AI sangat cepat dan siswa kami memang perlu dibekali bukan hanya cara menggunakan teknologinya, tetapi juga cara menggunakannya secara benar dan bertanggung jawab. Kami melihat kegiatan ini relevan karena menghubungkan literasi teknologi dengan kewirausahaan, sehingga siswa dapat memahami bahwa teknologi dapat digunakan untuk menciptakan ide, peluang, dan aktivitas produktif,” tuturnya.
Alisyahbana berharap kemampuan yang diperoleh siswa dapat dikembangkan lebih lanjut dalam pembelajaran maupun kegiatan kewirausahaan sekolah.
“Kami berharap siswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi generasi yang kreatif, kritis, dan inovatif. Pengalaman mengembangkan ide bisnis dengan bantuan AI diharapkan dapat menumbuhkan keberanian mereka untuk melihat peluang usaha sejak di bangku sekolah, dengan tetap memperhatikan etika digital,” tambahnya.
Pelaksanaan program dirancang melalui beberapa tahapan, mulai dari persiapan dan sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, hingga evaluasi. Pada tahap awal, tim melakukan koordinasi dengan pihak sekolah untuk menyamakan persepsi mengenai tujuan, mekanisme kegiatan, kebutuhan mitra, serta potensi pengembangan kewirausahaan siswa.
Pada tahap pelatihan, siswa diperkenalkan pada konsep dasar Artificial Intelligence dan Generative AI, termasuk berbagai tools seperti ChatGPT dan Google Gemini. Peserta kemudian diarahkan untuk memahami fungsi teknologi tersebut dalam aktivitas produktif, terutama dalam pengembangan ide bisnis, analisis peluang usaha, penyusunan rencana bisnis sederhana, serta pembuatan konten pemasaran digital.
Metode pembelajaran tidak hanya berupa pemaparan materi. Program menggunakan pendekatan experiential learning melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan praktik langsung sehingga siswa dapat mencoba bagaimana Gen-AI digunakan untuk menyelesaikan persoalan bisnis sederhana. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya memahami konsep AI secara teoritis, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam memanfaatkannya untuk kebutuhan kewirausahaan.
Salah satu target program adalah sedikitnya 80 persen peserta memahami konsep dasar AI berdasarkan hasil pre-test dan post-test. Program juga menargetkan lahirnya minimal 10 ide bisnis digital dari siswa sebagai hasil eksplorasi peluang usaha dan pemanfaatan Generative AI.
Materi kedua yang menjadi bagian penting program adalah workshop etika digital dalam penggunaan AI. Siswa dibekali pemahaman mengenai integritas akademik, etika penggunaan informasi digital, keamanan data pribadi, serta pemanfaatan AI secara kritis dan bertanggung jawab.
Melalui workshop ini, siswa diarahkan untuk memahami bahwa tidak semua informasi yang dihasilkan AI dapat langsung diterima sebagai kebenaran. Mereka perlu melakukan verifikasi, mempertimbangkan sumber informasi, menjaga orisinalitas karya, serta memahami konsekuensi penggunaan data dan konten digital. Program menargetkan sedikitnya 80 persen peserta memahami prinsip penggunaan AI secara bertanggung jawab.
Penguatan literasi AI kemudian dihubungkan secara langsung dengan kesiapan berwirausaha. Siswa didampingi melalui pendekatan project-based entrepreneurship learning untuk mengidentifikasi peluang usaha digital, mengembangkan ide bisnis dengan bantuan AI, merancang model bisnis sederhana, membuat konten pemasaran digital berbasis AI, dan mempresentasikan gagasan usaha yang dikembangkan.
Dalam tahap penerapan teknologi, siswa bekerja dalam kelompok untuk mengubah pemahaman yang diperoleh menjadi konsep usaha yang lebih konkret. AI digunakan sebagai alat bantu eksplorasi dan analisis, sementara keputusan akhir tetap dikembangkan berdasarkan diskusi, pertimbangan kebutuhan pasar, kreativitas kelompok, serta evaluasi terhadap kelayakan ide bisnis.
Program menargetkan sedikitnya lima proposal ide bisnis siswa berbasis teknologi digital. Target tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk membentuk pengalaman kewirausahaan yang lebih aplikatif dan memberi ruang kepada siswa untuk menguji gagasan bisnis sejak di lingkungan sekolah.
Pendampingan menjadi bagian penting setelah sesi pelatihan. Tim pengabdi memberikan bimbingan dalam penyempurnaan ide usaha melalui diskusi kelompok, konsultasi strategi pemasaran digital, evaluasi penggunaan AI dalam pengembangan bisnis, serta pembimbingan presentasi ide bisnis siswa.
Evaluasi program dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman mengenai literasi Generative AI dan etika digital, evaluasi terhadap proyek ide bisnis siswa, serta kuesioner kepuasan peserta. Selain itu, penerapan materi juga dievaluasi melalui aktivitas proyek kelompok dan presentasi hasil.
Program ini tidak dirancang berhenti pada pelatihan. Tim mendorong agar literasi Generative AI berbasis etika digital dapat diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran dan kewirausahaan siswa secara berkelanjutan. Salah satu tindak lanjut yang direncanakan adalah penyusunan modul literasi Gen-AI berbasis kewirausahaan yang dapat digunakan sekolah sebagai bahan pembelajaran.
Kolaborasi antara UNM dan SMAN 15 Makassar juga membuka peluang keberlanjutan melalui kegiatan akademik lain, seperti PPL, pengabdian kepada masyarakat, dan program PPK Ormawa. Dengan demikian, hubungan perguruan tinggi dan sekolah diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi berkembang menjadi kemitraan yang berkelanjutan dalam penguatan keterampilan generasi muda.
Secara lebih luas, program ini mendukung SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Kegiatan juga sejalan dengan penguatan kualitas sumber daya manusia yang adaptif terhadap perkembangan teknologi serta pemanfaatan kecerdasan buatan untuk mendukung inovasi ekonomi berbasis pengetahuan.
Melalui program penguatan literasi Generative AI berbasis etika digital, siswa SMAN 15 Makassar diharapkan mampu bergerak dari sekadar konsumen teknologi menjadi pengguna yang lebih produktif, kritis, kreatif, dan bertanggung jawab. Kemampuan tersebut menjadi modal penting dalam membangun kesiapan mereka sebagai calon wirausaha Generasi Z di tengah perkembangan ekonomi digital.
Pada akhirnya, integrasi antara literasi Gen-AI, etika digital, pengambilan keputusan bisnis, dan pembelajaran kewirausahaan diharapkan dapat menjadi model penguatan kompetensi generasi muda di tingkat sekolah menengah. Siswa tidak hanya dipersiapkan untuk memahami teknologi, tetapi juga untuk menggunakan teknologi tersebut dalam menciptakan peluang, menghasilkan inovasi, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Ikuti Saluran WhatsApp Inspiratif.co.id, Instagram : @inspiratif.co.id_official, X : @inspiratifL, @PORT_INSPIRATIF, laman Facebook Media Inspiratif.co.id











