Oleh: Junaidi Ismail, S.H. | Ketua Umum Poros Wartawan Lampung
ADA satu kesalahan yang mungkin sedang dilakukan manusia modern yaitu terlalu percaya bahwa semua yang digital pasti lebih baik.
Hari ini, hampir semua informasi dapat dicari melalui telepon genggam. Buku cetak pun mulai dianggap kuno, tidak praktis, dan hanya memenuhi ruang. Padahal, di balik kemudahan teknologi, ada satu pertanyaan penting yakni apakah seluruh pengetahuan manusia aman jika hanya bergantung pada dunia digital? Menurut saya, tidak.
Buku cetak tidak boleh punah. Bukan karena kita anti-teknologi, melainkan karena teknologi juga memiliki kelemahan. Data digital bisa menghadapi ancaman peretasan, kerusakan server, kehilangan data, perubahan platform, hingga keusangan format.
Buku berbeda. Buku tidak membutuhkan listrik, internet, aplikasi, atau kata sandi untuk dibaca. Dan yang paling sederhana, buku tidak bisa diretas dari jarak jauh.
Kita juga harus menyadari bahwa teknologi terus berubah. Disket, CD, DVD, hingga berbagai perangkat penyimpanan pernah menjadi teknologi penting, tetapi sebagian kini sulit digunakan tanpa perangkat khusus.
Format digital pun dapat berubah dan membutuhkan proses pemeliharaan agar tetap dapat diakses.
Sementara buku yang dicetak dengan baik dan disimpan secara tepat dapat bertahan lintas generasi.
Lebih dari hanya media membaca. Buku adalah jejak peradaban, merekam gagasan, ilmu, sejarah, kebudayaan, dan pemikiran manusia pada suatu zaman.
Tentu, buku bukan berarti tanpa kelemahan. Buku bisa rusak, terbakar, hilang, bahkan mengandung kesalahan. Karena itu, buku tidak harus menggantikan digital. Justru keduanya harus berjalan bersama. Digital untuk kecepatan dan buku untuk ketahanan.
Digitalisasi harus terus dikembangkan karena mampu memperluas akses ilmu pengetahuan secara cepat dan murah. Namun, karya-karya penting terutama buku ilmiah, sejarah, penelitian, sastra, arsip kebudayaan, dan dokumen penting semestinya tetap memiliki salinan fisik.
Jangan menaruh seluruh ingatan manusia dalam satu keranjang. Jika seluruh ilmu pengetahuan hanya disimpan dalam sistem digital, kita ikut menggantungkan warisan intelektual pada listrik, perangkat keras, perangkat lunak, jaringan internet, dan sistem keamanan.
Bukan berarti semua itu akan gagal. Tetapi sejarah mengajarkan bahwa tidak ada teknologi yang kekal.
Karena itu, mempertahankan buku bukanlah kemunduran. Justru merupakan bentuk kehati-hatian untuk menjaga masa depan.
Setidaknya saya sudah menyampaikan kegelisahan ini melalui tulisan. Barangkali dapat menjadi bahan pertimbangan bagi para ilmuwan, akademisi, penulis, penerbit, pengelola perpustakaan, pemerintah, dan masyarakat.
Saya tidak tahu apakah kekhawatiran ini kelak terbukti atau tidak. Tetapi jika suatu hari generasi mendatang kesulitan mengakses pengetahuan karena terlalu bergantung pada teknologi digital, setidaknya pernah ada catatan bahwa kekhawatiran itu sudah disampaikan.
Sebab tugas kita bukan hanya memastikan ilmu pengetahuan mudah diakses hari ini. Kita juga harus memastikan ilmu itu tetap dapat ditemukan ketika teknologi yang kita gunakan hari ini sudah tidak lagi digunakan.
Jangan bunuh buku hanya karena kita sedang jatuh cinta kepada layar. Sebab ketika layar padam, mungkin buku lah yang masih menyala. (*)
Bandar Lampung, 02 September 2026
Ikuti Saluran WhatsApp Inspiratif.co.id, Instagram : @inspiratif.co.id_official, X : @inspiratifL, @PORT_INSPIRATIF, laman Facebook Media Inspiratif.co.id











