Oleh: Junaidi Ismail, S.H. | Wartawan Utama
MEMASUKI Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi, suasana batin sebagian rakyat Indonesia tidak sepenuhnya dipenuhi gema takbir dan kegembiraan. Di balik semangat pengorbanan yang menjadi ruh Idul Adha, tersimpan kegelisahan panjang tentang masa depan ekonomi keluarga, pekerjaan, dan keberlangsungan hidup jutaan masyarakat kecil di negeri ini.
Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal yang mulai menghantui sektor manufaktur dan tekstil bukan hanya persoalan statistik ekonomi.
Ia adalah persoalan kemanusiaan, persoalan dapur rakyat, dan persoalan kehormatan negara dalam menjaga martabat warganya.
Ketika ribuan buruh kehilangan pekerjaan dalam waktu singkat, maka yang sesungguhnya sedang diuji bukan hanya ketahanan industri nasional, melainkan juga ketahanan sosial, psikologis, bahkan moral kebangsaan.
Indonesia hari ini sedang menghadapi tekanan global yang tidak ringan.
Konflik geopolitik internasional telah mengganggu rantai pasok energi dan logistik dunia. Harga energi melonjak tajam.
Bahan baku impor semakin mahal. Nilai tukar rupiah mengalami tekanan yang memperbesar biaya produksi industri nasional.
Pada saat bersamaan, pasar domestik dibanjiri produk impor murah, termasuk tekstil ilegal, yang secara perlahan melemahkan kemampuan industri dalam negeri untuk bertahan hidup.
Akibatnya dapat dirasakan secara nyata. Pabrik mengurangi produksi. Efisiensi dilakukan secara brutal. Buruh menjadi korban pertama. Ribuan kepala keluarga kehilangan pendapatan. Daya beli masyarakat melemah. Warung-warung kecil di sekitar kawasan industri mulai sepi. Rumah kos kehilangan penghuni. UMKM mengalami penurunan omzet. Krisis kemudian bergerak seperti efek domino yang menghantam sendi-sendi ekonomi rakyat kecil.
Kondisi ini tentu tidak boleh dipandang sebagai persoalan biasa. Sebab apabila dibiarkan tanpa langkah strategis dan keberanian politik yang kuat, Indonesia dapat menghadapi ancaman stagnasi ekonomi di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok atau yang dikenal sebagai stagflasi.
Situasi semacam ini sangat berbahaya karena dapat mengikis optimisme masyarakat secara perlahan.
Namun di tengah berbagai tekanan tersebut, bangsa ini tidak boleh kehilangan arah dan kepercayaan diri. Negara harus hadir dengan wibawa dan ketegasan.
Pemerintah bersama seluruh pemangku kebijakan harus mampu menunjukkan kepada rakyat bahwa Indonesia tetap berdiri kokoh menghadapi badai global.
Kehormatan sebuah negara tidak hanya diukur dari besarnya anggaran atau tingginya gedung pencakar langit, tetapi juga dari kemampuannya melindungi rakyat kecil ketika keadaan sulit datang.
Dalam situasi seperti sekarang, rakyat membutuhkan kepastian, keberpihakan, dan ketenangan psikologis bahwa negara tidak tinggal diam.
Sudah saatnya kebijakan ekonomi nasional benar-benar berpihak pada penguatan industri domestik. Pengawasan terhadap produk impor ilegal harus diperketat.
Industri nasional perlu diberi ruang hidup yang sehat agar mampu bersaing secara adil.
Insentif energi dan stimulus produksi bagi sektor padat karya juga menjadi kebutuhan mendesak agar badai PHK tidak semakin meluas.
Lebih dari itu, momentum Idul Adha seharusnya menjadi pengingat bahwa pengorbanan, solidaritas, dan kepedulian sosial adalah fondasi utama dalam menjaga keutuhan bangsa.
Idul Adha bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban, melainkan juga tentang keberanian menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan kelompok dan golongan.
Dalam sejarah peradaban Islam, Nabi Ibrahim AS memberikan teladan tentang keikhlasan dan keteguhan menghadapi ujian berat. Nilai itulah yang relevan bagi bangsa Indonesia hari ini.
Bahwa dalam situasi sesulit apa pun, bangsa ini tidak boleh menyerah pada rasa takut, apalagi kehilangan harapan.
Indonesia adalah bangsa besar yang telah berkali-kali melewati krisis. Dari krisis ekonomi, pandemi, hingga tekanan geopolitik global, bangsa ini selalu memiliki kemampuan untuk bangkit. Karena itu, pesimisme bukanlah jalan keluar.
Yang dibutuhkan adalah keberanian mengambil kebijakan yang tepat, keberpihakan kepada rakyat, dan solidaritas nasional yang kuat.
Hari Raya Idul Adha juga harus menjadi momentum mempererat empati sosial.
Di saat banyak saudara sebangsa kehilangan pekerjaan dan menghadapi tekanan hidup, maka semangat berbagi tidak boleh hanya menjadi simbol seremonial tahunan.
Kepedulian sosial harus hidup dalam tindakan nyata, baik dari negara, dunia usaha, maupun masyarakat secara luas.
Pada akhirnya, tantangan ekonomi yang sedang dihadapi Indonesia bukan cuma ujian bagi pemerintah, tetapi ujian bagi seluruh elemen bangsa. Apakah kita mampu menjaga persatuan di tengah tekanan?
Apakah kita mampu mengedepankan kepentingan nasional di atas kepentingan sesaat?
Dan apakah kita tetap memiliki keyakinan bahwa Indonesia mampu melewati masa sulit ini dengan kepala tegak?
Di tengah ancaman PHK massal dan tekanan ekonomi global, semoga gema takbir Idul Adha tahun ini tetap menghadirkan harapan baru bagi rakyat Indonesia. Bahwa setelah kesulitan akan datang kemudahan. Setelah pengorbanan akan lahir kekuatan.
Selamat merayakan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.
Mohon maaf lahir dan batin.
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga Indonesia, menguatkan rakyatnya, dan memberikan jalan keluar terbaik bagi bangsa yang kita cintai ini. (*)
Bandar Lampung, 27 Mei 2026
Ikuti Saluran WhatsApp Inspiratif.co.id, Instagram : @inspiratif.co.id_official, X : @inspiratifL, @PORT_INSPIRATIF, laman Facebook Media Inspiratif.co.id











