Oleh: Junaidi Ismail, S.H. | Ketum Poros Wartawan Lampung
KABAR wafatnya Ryamizard Ryacudu pada Minggu, 31 Mei 2026, meninggalkan duka yang mendalam bagi bangsa Indonesia, khususnya bagi masyarakat Lampung. Di usia 76 tahun, beliau menutup lembar pengabdian panjang yang telah diisi dengan dedikasi, keberanian, dan kecintaan yang tulus kepada negara serta rakyatnya.
Sebagai orang Lampung, saya merasakan kehilangan yang tidak kecil. Bukan semata karena beliau adalah putra daerah yang berhasil mencapai puncak karier militer dan pemerintahan nasional, melainkan karena sosok Ryamizard Ryacudu telah menjelma menjadi simbol keteguhan, keberanian, sekaligus kebapakan yang sulit dicari padanannya.
Di negeri ini, banyak tokoh besar lahir dari ruang kekuasaan. Namun hanya sedikit yang mampu meninggalkan jejak kuat di hati masyarakat. Ryamizard adalah salah satunya.
Namanya melekat kuat dalam berbagai fase penting perjalanan bangsa. Ketika konflik berkepanjangan mengguncang Aceh pada awal dekade 2000-an, ia berada di garis depan sebagai salah satu pemimpin militer yang memegang teguh prinsip bahwa keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah harga mati.
Sebagai Kepala Staf Angkatan Darat, ia dikenal memiliki karakter yang tegas, lugas, dan tidak mudah goyah oleh tekanan.
Bagi para prajurit, Ryamizard bukan sekadar komandan yang memberi instruksi dari balik meja. Ia adalah pemimpin lapangan yang memahami beratnya tugas seorang tentara.
Ia menjaga semangat pasukan, membangun moral tempur, dan menanamkan keyakinan bahwa pengabdian kepada negara adalah kehormatan tertinggi.
Tetapi sejarah seorang manusia tidak pernah utuh jika hanya dilihat dari satu sisi.
Di balik ketegasan seorang jenderal, terdapat sosok yang hangat dan dekat dengan masyarakat. Sisi inilah yang paling dirasakan oleh masyarakat Lampung.
Ketika kembali ke tanah leluhurnya, Ryamizard tidak datang sebagai tokoh nasional yang menjaga jarak. Ia hadir sebagai anak daerah yang tetap merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap kampung halamannya.
Lampung adalah daerah yang unik. Beragam suku, agama, bahasa, dan budaya hidup berdampingan di dalamnya. Tidak berlebihan jika Lampung disebut sebagai miniatur Indonesia.
Dalam situasi seperti itu, keberadaan tokoh pemersatu menjadi sangat penting.
Ryamizard memahami hal tersebut.
Ia konsisten merangkul berbagai elemen masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dan berbagai kelompok sosial. Kehadirannya sering menjadi penyejuk ketika muncul potensi gesekan di tengah masyarakat.
Ia percaya bahwa persatuan tidak cukup hanya dibangun melalui aturan hukum, tetapi juga melalui hubungan kemanusiaan yang hangat dan saling menghormati.
Karena itulah masyarakat Lampung tidak hanya mengenalnya sebagai seorang jenderal, tetapi juga sebagai pengayom.
Hubungan Ryamizard dengan adat dan budaya Lampung juga tidak dapat dipisahkan dari perjalanan hidupnya.
Di tengah arus modernisasi yang sering membuat generasi muda menjauh dari akar budayanya, beliau justru menunjukkan penghormatan yang tinggi terhadap nilai-nilai adat.
Penganugerahan gelar adat kepadanya bukanlah sekadar simbol seremonial. Penghormatan itu lahir dari pengakuan masyarakat adat atas kontribusinya dalam menjaga marwah budaya Lampung.
Beliau memahami bahwa adat bukan sekadar pakaian tradisional, upacara, atau gelar kehormatan. Adat adalah identitas. Adat adalah memori kolektif sebuah masyarakat. Adat adalah fondasi yang membuat suatu bangsa tetap berdiri tegak meskipun diterpa perubahan zaman.
Karena itulah ia terus mendorong peran marga-marga adat di Lampung agar tetap menjadi bagian penting dalam menjaga harmoni sosial dan ketahanan masyarakat.
Yang menarik, kecintaannya kepada Lampung tidak berhenti pada aspek budaya semata.
Sebagai seorang pemimpin yang berpikir strategis, Ryamizard juga memiliki perhatian besar terhadap masa depan pembangunan daerah. Ia kerap berbicara mengenai potensi besar Lampung yang belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal.
Posisi geografis yang strategis, sumber daya alam yang melimpah, serta kedekatan dengan pusat ekonomi nasional membuat Lampung memiliki peluang besar untuk berkembang lebih maju.
Dalam berbagai kesempatan, ia mendorong agar daerah ini tidak hanya menjadi penyangga Pulau Jawa, tetapi juga menjadi salah satu motor penggerak pembangunan nasional.
Pandangan seperti itu menunjukkan bahwa cintanya kepada Lampung bukanlah romantisme nostalgia semata, melainkan diwujudkan dalam gagasan dan pemikiran yang berorientasi pada masa depan.
Kini, sosok itu telah berpulang. Kematian selalu mengingatkan kita bahwa tidak ada jabatan yang abadi. Tidak ada pangkat yang dibawa pergi. Tidak ada kekuasaan yang dapat melawan takdir. Yang tersisa hanyalah jejak pengabdian.
Dan Ryamizard Ryacudu meninggalkan jejak yang panjang.
Jejak itu ada di barak-barak tempat prajurit pernah mendapatkan semangat darinya. Jejak itu ada di Aceh yang kembali damai setelah melewati masa-masa sulit.
Jejak itu ada di ruang-ruang dialog kebangsaan yang mempertemukan berbagai perbedaan.
Jejak itu juga ada di bumi Lampung, di rumah-rumah adat, di tengah masyarakat yang pernah merasakan kehangatan dan kepeduliannya.
Bagi generasi muda, kisah hidup Ryamizard mengajarkan bahwa keberhasilan tidak harus membuat seseorang tercerabut dari akar budayanya.
Semakin tinggi seseorang melangkah, semakin penting baginya untuk tetap mengingat dari mana ia berasal.
Barangkali itulah warisan terbesar yang ditinggalkan beliau. Bahwa mencintai Indonesia tidak harus membuat seseorang melupakan daerahnya.
Dan mencintai daerah tidak berarti mengurangi kecintaan kepada Indonesia.
Keduanya bisa berjalan beriringan.
Dari palagan Aceh yang penuh ujian hingga rumah-rumah adat Lampung yang teduh, Ryamizard Ryacudu memperlihatkan satu benang merah yang konsisten sepanjang hidupnya, yakni pengabdian tanpa banyak keluhan, keteguhan tanpa banyak pencitraan, serta kecintaan yang tulus kepada bangsa dan rakyat.
Kini sang jenderal telah menuntaskan tugasnya di dunia. Namun nilai-nilai yang ia tinggalkan akan terus hidup dalam ingatan masyarakat, menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk menjaga persatuan, menghormati budaya, dan mencintai negeri ini dengan sepenuh hati.
Selamat jalan, Jenderal.
Doa terbaik kami menyertai.
Al-Fatihah. (*)
Bandar Lampung, 1 Juni 2026
Ikuti Saluran WhatsApp Inspiratif.co.id, Instagram : @inspiratif.co.id_official, X : @inspiratifL, @PORT_INSPIRATIF, laman Facebook Media Inspiratif.co.id











