Opini  

Juara Dunia, Ongkos Sendiri

Oleh: Junaidi Ismail, S.H. | Ketum Poros Wartawan Lampung

ADA ironi yang terasa menyesakkan dada ketika membaca kabar keberhasilan Tim Olimpiade Biologi Indonesia (TOBI) dalam ajang Open International Biology Olympiad (OIBO) 2026 di Rusia. Di satu sisi, bangsa ini patut berbangga. Putra-putri terbaik Indonesia berhasil membawa pulang tujuh medali dari kompetisi internasional yang diikuti sekitar 100 peserta dari 18 negara.

banner 325x300

Prestasi itu bukan cuma kemenangan individu, melainkan kemenangan Indonesia di mata dunia.

Namun di sisi lain, kebanggaan itu bercampur rasa malu. Mengapa?

Karena keberangkatan para pelajar berprestasi tersebut ternyata dilakukan secara swadaya. Orang tua mereka harus mengeluarkan dana pribadi agar anak-anaknya dapat berangkat mewakili Indonesia di panggung internasional.

Pertanyaan yang kemudian muncul sangat sederhana, yakni di mana negara saat mereka membutuhkan dukungan?

Pertanyaan ini bukan lahir dari kebencian kepada pemerintah. Justru sebaliknya. Pertanyaan ini lahir dari rasa cinta kepada negara yang seharusnya hadir untuk mendukung warganya yang sedang membawa nama bangsa.

Kita tentu memahami bahwa tidak semua kegiatan internasional dapat dibiayai oleh pemerintah. Anggaran negara memiliki keterbatasan dan harus dibagi untuk berbagai sektor.

Akan tetapi, ketika berbicara tentang pelajar yang membawa bendera Merah Putih dalam kompetisi sains dunia, persoalannya bukan lagi sekadar soal uang. Persoalannya adalah soal keberpihakan.

Negara yang serius membangun masa depan akan menempatkan pendidikan, riset, dan prestasi akademik sebagai investasi strategis.

Sebab sejarah dunia telah membuktikan bahwa negara-negara maju tidak dibangun oleh sumber daya alam semata, melainkan oleh sumber daya manusia yang unggul.

Kita sering mendengar pidato tentang bonus demografi, Indonesia Emas 2045, transformasi pendidikan, dan pentingnya inovasi.

Semua itu terdengar indah di atas podium. Namun ukuran keberhasilan bukanlah seberapa banyak slogan yang diucapkan, melainkan seberapa nyata dukungan yang diberikan kepada anak-anak berprestasi.

Apa gunanya berbicara tentang Indonesia Emas jika calon-calon ilmuwan masa depan harus mencari biaya sendiri untuk bertanding di tingkat dunia?

Apa gunanya membanggakan generasi unggul jika negara justru tidak hadir pada saat mereka membutuhkan dukungan?

Fakta bahwa TOBI mampu meraih satu medali emas individu, empat medali perak individu, satu medali perunggu individu, serta satu medali emas beregu menunjukkan bahwa kualitas pelajar Indonesia sesungguhnya tidak kalah dari negara lain.

Mereka mampu bersaing. Mereka mampu menang. Mereka mampu mengharumkan nama bangsa.

Ironisnya, mereka melakukannya tanpa dukungan yang memadai dari negara.

Prestasi tersebut semestinya menjadi bahan evaluasi besar bagi seluruh pemangku kepentingan di bidang pendidikan, riset, dan pembinaan talenta nasional.

Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya keberhasilan satu tim olimpiade, melainkan masa depan ekosistem prestasi Indonesia secara keseluruhan.

Bayangkan jika para orang tua peserta tidak memiliki kemampuan finansial yang cukup. Bayangkan jika tiket pesawat tidak mampu dibeli. Bayangkan jika biaya akomodasi tidak tersedia. Mungkin Indonesia tidak akan mengirimkan delegasi sama sekali.

Dan jika itu terjadi, dunia tidak pernah tahu bahwa bangsa ini memiliki anak-anak luar biasa yang mampu berdiri sejajar dengan pelajar terbaik dari berbagai negara.

Di sinilah letak persoalan yang sebenarnya.
Prestasi tidak boleh bergantung pada kemampuan ekonomi keluarga.

Jika akses menuju kompetisi internasional hanya terbuka bagi mereka yang mampu membiayai sendiri, maka kita sedang menciptakan ketidakadilan dalam sistem pembinaan talenta nasional.

Banyak anak-anak cerdas lahir dari keluarga sederhana. Mereka memiliki kecerdasan, disiplin, dan semangat belajar yang tinggi. Namun tanpa dukungan negara, potensi mereka bisa berhenti di tengah jalan.

Padahal konstitusi mengamanatkan bahwa negara bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa.

Makna mencerdaskan kehidupan bangsa tentu tidak berhenti pada penyediaan ruang kelas dan buku pelajaran.

Negara juga harus memastikan bahwa setiap anak berprestasi memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang hingga level tertinggi.

Karena itu, keberhasilan TOBI seharusnya menjadi peringatan bagi pemerintah. Peringatan bahwa sistem pembinaan talenta nasional masih memiliki celah besar. Peringatan bahwa koordinasi antarinstansi belum berjalan optimal. Peringatan bahwa penghargaan terhadap prestasi akademik masih kalah populer dibanding berbagai program lain yang lebih bersifat seremonial.

Kita tidak sedang memperdebatkan siapa yang salah dan siapa yang benar. Yang lebih penting adalah memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali.

Pemerintah pusat, kementerian terkait, pemerintah daerah, BUMN, hingga dunia usaha perlu membangun mekanisme permanen untuk mendukung pelajar Indonesia yang akan bertanding di tingkat internasional.

Harus ada dana khusus yang dapat diakses secara cepat dan transparan. Harus ada sistem pendampingan yang jelas. Harus ada kepastian bahwa ketika seorang pelajar berangkat membawa nama Indonesia, ia tidak perlu lagi khawatir memikirkan biaya perjalanan.

Karena energi mereka seharusnya difokuskan untuk belajar, berkompetisi, dan meraih kemenangan.

Bukan untuk menggalang dana. Bukan untuk mencari sponsor. Apalagi bergantung sepenuhnya pada kemampuan ekonomi orang tua.

Yang juga perlu menjadi perhatian adalah budaya apresiasi kita terhadap prestasi akademik.

Sering kali bangsa ini terlalu mudah memberikan sorotan kepada hal-hal yang bersifat sensasional, sementara pencapaian ilmiah justru luput dari perhatian.

Padahal para peraih medali olimpiade sains inilah yang kelak berpotensi menjadi peneliti, dokter, ahli bioteknologi, akademisi, dan inovator yang menentukan masa depan Indonesia.

Mereka adalah aset strategis bangsa. Mereka bukan hanya peserta lomba. Mereka adalah investasi peradaban.

Karena itu, ketika negara tidak hadir mendukung mereka sejak awal, sesungguhnya yang dirugikan bukan hanya para peserta. Yang dirugikan adalah Indonesia sendiri.

Namun di tengah kritik yang layak disampaikan, kita juga harus memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para orang tua yang telah berkorban. Mereka telah menunjukkan makna nasionalisme yang sesungguhnya.

Dengan kemampuan yang mereka miliki, mereka rela mengeluarkan biaya agar anak-anaknya dapat membawa nama Indonesia ke panggung dunia.

Pengorbanan itu akhirnya terbayar dengan tujuh medali yang kini menjadi kebanggaan seluruh rakyat Indonesia.

Maka ketika para juara itu pulang, seharusnya yang menyambut mereka bukan hanya keluarga dan sekolah. Seluruh bangsa ini berutang rasa hormat kepada mereka.

Mereka telah menunjukkan bahwa keterbatasan dukungan bukan alasan untuk menyerah. Mereka telah membuktikan bahwa prestasi lahir dari kerja keras, disiplin, dan ketekunan.

Dan yang paling penting, mereka telah mengingatkan kita bahwa di balik setiap medali yang mengharumkan nama Indonesia, terdapat tanggung jawab negara yang tidak boleh absen.

Ke depan, pemerintah perlu menjadikan peristiwa ini sebagai bahan introspeksi, bukan hanya berita yang lewat begitu saja.

Sebab sebuah bangsa besar tidak diukur dari banyaknya pidato tentang pendidikan, melainkan dari keberpihakannya kepada anak-anak terbaiknya.

TOBI telah menunaikan tugasnya dengan sangat baik. Kini giliran negara menunjukkan bahwa mereka tidak berjuang sendirian.

Karena Merah Putih tidak hanya berkibar saat kemenangan diraih. Merah Putih juga harus hadir sejak langkah pertama perjuangan dimulai. (*)

Bandar Lampung, 7 Juni 2026

Ikuti Saluran WhatsApp Inspiratif.co.id, Instagram : @inspiratif.co.id_official, X : @inspiratifL, @PORT_INSPIRATIF, laman Facebook Media Inspiratif.co.id

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *