Opini  

MBG, Peluang Kedaulatan Pangan dan Ekonomi Rakyat

Oleh: Junaidi Ismail, S.H. | Ketum Poros Wartawan Lampung

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan hanya kebijakan sosial untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan. Jika dikelola secara profesional, transparan, dan berkelanjutan, program ini berpotensi menjadi salah satu penggerak utama transformasi ekonomi nasional dari desa menuju Indonesia yang lebih mandiri.

banner 325x300

Pemerintah patut diapresiasi karena mulai menempatkan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan sebagai fondasi utama penyedia bahan baku pangan lokal. Pendekatan ini menunjukkan bahwa program pemenuhan gizi tidak hanya dipandang sebagai belanja negara, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kebijakan tersebut menjadi semakin strategis ketika dihubungkan dengan pembangunan lumbung pangan nasional, perluasan lahan pertanian, serta upaya menjaga stabilitas harga komoditas peternakan. Ketiga aspek ini saling berkaitan dan membentuk ekosistem ekonomi yang dapat memberikan manfaat dari hulu hingga hilir.

Program MBG memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang sangat besar. Ketika jutaan porsi makanan diproduksi setiap hari, pemerintah secara otomatis menciptakan pasar yang relatif pasti bagi petani, peternak, nelayan, dan pelaku usaha pangan lokal. Kepastian pasar merupakan sesuatu yang selama ini menjadi persoalan klasik di sektor pertanian Indonesia.

Selama bertahun-tahun, petani sering menghadapi fluktuasi harga akibat lemahnya kepastian pembeli. Produksi melimpah justru kerap diikuti anjloknya harga sehingga keuntungan petani menyusut. Kehadiran MBG dapat mengurangi persoalan tersebut karena kebutuhan bahan pangan berlangsung secara rutin dan berkesinambungan.

Lebih jauh lagi, dominasi penggunaan bahan baku lokal akan mempercepat perputaran uang di desa. Ketika anggaran negara dibelanjakan langsung kepada produsen lokal melalui koperasi maupun kelompok tani, manfaat ekonominya tidak berhenti pada satu pihak saja. Pendapatan petani meningkat, usaha kecil berkembang, lapangan kerja bertambah, dan daya beli masyarakat ikut menguat.

Langkah pemerintah mempercepat pembangunan lumbung pangan di Papua Selatan juga patut diapresiasi. Investasi besar dalam pembangunan sawah baru, optimalisasi lahan, pembangunan irigasi, “Rice Milling Unit” (RMU), gudang penyimpanan, hingga penggunaan alat pertanian modern merupakan fondasi penting untuk memperkuat kemandirian pangan nasional.

Pembangunan kawasan pangan baru tidak semestinya dipahami hanya sebagai proyek pembukaan lahan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana investasi tersebut mampu meningkatkan produktivitas, menciptakan kesempatan kerja, memberdayakan masyarakat adat, serta melahirkan generasi muda petani yang menguasai teknologi modern.

Jika seluruh tahapan dilaksanakan secara tepat, kawasan timur Indonesia bukan hanya menjadi penyangga pangan nasional, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu mengurangi ketimpangan pembangunan antarwilayah.

Di sisi lain, kebijakan pemerintah menetapkan harga acuan ayam hidup dan telur ayam ras merupakan bentuk perlindungan terhadap peternak rakyat. Harga yang terlalu rendah merugikan produsen, sedangkan harga yang terlalu tinggi memberatkan masyarakat sebagai konsumen.

Menjaga keseimbangan tersebut memang bukan pekerjaan mudah. Pemerintah harus mampu memastikan mekanisme pasar berjalan secara sehat tanpa adanya permainan tengkulak, kartel, maupun praktik spekulasi yang merugikan peternak dan masyarakat.

Dalam konteks MBG, stabilitas harga protein hewani menjadi sangat penting karena kebutuhan ayam dan telur akan terus meningkat seiring meluasnya cakupan program. Tanpa pengawasan yang baik, lonjakan permintaan justru berpotensi dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memperoleh keuntungan yang tidak wajar.

Namun demikian, keberhasilan program sebesar apa pun tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran. Faktor yang paling menentukan adalah tata kelola. Transparansi, akuntabilitas, dan pengawasan harus menjadi prioritas utama agar setiap rupiah anggaran benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pengawasan tidak cukup hanya dilakukan oleh aparat penegak hukum ketika dugaan penyimpangan sudah terjadi. Pencegahan harus dimulai sejak tahap perencanaan, pengadaan, distribusi, hingga evaluasi pelaksanaan program. Sistem yang baik akan mempersempit ruang bagi praktik korupsi, mark-up, pengurangan kualitas bahan pangan, maupun penyalahgunaan kewenangan.

Di sinilah pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat pengawas internal, aparat penegak hukum, media massa, akademisi, organisasi masyarakat, dan masyarakat sendiri. Pengawasan kolektif merupakan benteng terbaik untuk menjaga integritas program yang menyangkut kepentingan jutaan rakyat Indonesia.

MBG bukan hanya berbicara mengenai makanan yang tersaji di atas meja. Program ini menyangkut masa depan kualitas sumber daya manusia Indonesia, keberlangsungan sektor pertanian, ketahanan pangan nasional, serta pemerataan pertumbuhan ekonomi.

Karena itu, sudah saatnya seluruh elemen bangsa memberikan dukungan terhadap kebijakan yang berpihak kepada kepentingan rakyat, sekaligus mengawal pelaksanaannya secara kritis dan konstruktif. Apresiasi kepada pemerintah harus berjalan seiring dengan komitmen untuk mencegah setiap bentuk penyimpangan anggaran.

Keberhasilan program Makan Bergizi Gratis akan menjadi bukti bahwa kebijakan publik yang dirancang dengan baik, didukung tata kelola yang bersih, serta diawasi secara konsisten mampu menjadi instrumen pembangunan yang memperkuat ekonomi rakyat sekaligus menjaga kehormatan dan kewibawaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (*)

Bandar Lampung, 14 Juli 2026

Ikuti Saluran WhatsApp Inspiratif.co.id, Instagram : @inspiratif.co.id_official, X : @inspiratifL, @PORT_INSPIRATIF, laman Facebook Media Inspiratif.co.id

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *